Dimensi Lain di Gunung Cikuray
Pada tahun 2016, tepatnya 1 April. Saya dan beberapa kawan memutuskan untuk mendaki Gunung Cikuray, Jawa Barat. Kebetulan juga saat itu liburan UN (Ujian Nasional) bisa dibilang waktunya juga pas untuk mendaki. Kami berangkat berjumlah 13 orang, 12 cowo dan 1 cewe. Dengan bermodalkan nekat, peralatan seadanya, dan minimnya pengetahuan tentang gunung kami tetap melanjutkan. Ini pengalaman pertama saya naik gunung dan 11 kawan lainnya, 2 kawan kami sudah pernah mendaki gunug sebelumnya. Jadi, ini pendakian kedua mereka.
Berangkat dari Jakarta malem sabtu sampai di Terminal Guntur, Garut sekitar subuh. Kami melanjutkan perjalan ke Basecamp dengan menyarter truk dengan pendaki lain. Sampailah kami di pos pendakian Gunung Cikuray via Pemancar pada pagi hari. Setelah beres dengan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Konservasi) kami pun memulai pendakian dengan berdoa terlebih dulu. Pendakian lancar dan tidak ada masalah dari Pos 1 ke Pos 2, setelah beberapa jarak melewati Pos 2 ke Pos 3 kami pun beristirahat sejenak menikmati kopi dan rokok. Kondisinya saat itu pada duduk istirahat sambil ngerokok, saya pun tersundut rokok kawan dengan reflek saya mengucap “Aduh ngen…” baru mengucap setengah saya sadar karena berbicara kotor. Saya meminta maap ke semua kawan dan hal janggal pun muncul. Tiba-tiba kabut muncul dengan tebal dan pendaki lain pun menghilang begitu saja, padahal saat itu banyak pendaki lalu lalang. Dengan perasaan tidak enak kami pun melanjutkan pendakian secara perlahan-lahan. Karena kondisi kabutnya yang semakin tebal dan merusak pandangan. Kawan saya bernama Jawza mengajak untuk break sejenak serta berdoa. Ohya, sebelum berangkat kami dikasih semacam doa oleh kakeknya si Jawza ini. Dia bilang untuk berjaga-jaga, setelah semuanya tenang kami pun berdoa sesuai yang ada di doa yang diberikan oleh kakeknya Jawza. Setelah berdoa keadaan pun berubah dengan sekejap kabut pun menipis dan langsung bermunculan lah para pendaki lain. Semenjak dari kejadian itu saya dan kawan menjaga perkataan dan perbuatan. Pendakian pun berlanjut dengan kondisi aman sampailah kami di Pos 6 sekitar sore, mendirikan tenda untuk istirahat dan bersiap untuk melanjutkan Summit Attack besok pagi.
Pagi pun tiba kami semua melanjutkan perjalanan ke puncak, perasaan bangga dan sedih pun kami rasakan khusunya untuk yang baru pertama kali bisa mencapai puncak gunung. Sekitar satu jam berada di puncak dan merasa cukup dengan beberapa kali berfoto, kami melanjutkan perjalan turun ke Pos 6 untuk rapih-rapih dan packing logistik. Saat sampai di Pos 6 kawan saya cewe bernama Hizah minta ditemenin untuk ganti pembalutnya, sontak saya kaget mengapa dia baru bilang pada saat seperti ini. Pantangan sekali jika seorang cewe pada saat kondisi seperti itu mendaki gunug, disarankan jangan mendaki gunung pada saat waktu datang bulan. Saya mengiyakan permintaan Hizah dan saya juga memberi tahu kawan yang lain kalau Hizah sedang datang bulan, mereka pun sontak terkaget lalu menanyakan ke Hizah dengan memastikan omongan saya benar atau tidak sedang kondisi datang bulan. Suasana pun berubah dengan perasaan cemas karena hal itu, setelah semuanya beres kami makan dan bersiap-siap untuk pulang karena ingin mengejar waktu agar sampai Jakarta hari ini juga.
Waktu sudah menunjukkan sekitar siang hari, ada satu masalah muncul sebelum melanjutkan perjalan pulang yaitu, sampah yang berlebih. Karena permasalahan itu membuat kami menjadi cekcok, akhirnya kami memutuskan membagi tim menjadi 2, tim 1 berisi 5 orang dan tim 2 berisi 8 orang termasuk saya. Tim 1 berangkat terlebih dahulu dan tim 2 menyelesaikan masalah sampah, tidak memakan waktu yang banyak sekitar 10 menitan masalah pun selesai dengan membuat sampai menjadi tas menggunakan tali webbing. Tim 2 pun berangkat menyusul tim 1, kejanggalan muncul kembali setelah itu. Secara logika tim 2 pasti akan ketemu dengan tim 1 karena waktunya tadi bisa dibilang cepat dan kenyataannya pun tim 2 tidak pernah bertemu dengan tim 1 lagi selama di trek. Tim 2 malah menunggu tim 1 di Pos 3 sekitar satu jam padahalkan seharusnya tim 1 yang menunggu tim 2, aneh, ada hal apa yang menimpah kami? Kami mencoba beripikir yang positif dan tidak mengada-ada. Ternyata ada hal yang tidak beres percaya ataupun tidak tim 2 memasuki dimensi lain secara tidak sadar, setelah melewati Pos 3 semua pun berubah, jalur pendakian, suasana, dan hilangnya semua pendaki lain secara tiba-tiba. Padahal, saat itu pendaki memang sedang lalu lalang. Kami pun langsung menyadarinya dan hanya bertatapan satu sama lain untuk memastikan kejadian ini. Seorang kawan bernama Landung angkat suara setelah kejadian tersebut, dia bilang “Eh, ini treknya sama ngga sih? Kok beda deh terus bersih banget engga ada jejak kaki sama sekali terus juga kok engga ada pendaki lain”. Sontak saya meyakinkan Landung “Sama, Dung. Udah jalan aja dulu engga ada yang aneh kok”. Realitanya memang berbeda dari yang saya bilang. Perjalan masih berlanjut dengan tidak memerdulikan keadaan─kami menganggap semua akan baik-baik saja, tidak lama kemudian hujan turun dan membuat perjalan kami terganggu karena dari kami tidak ada yang membawa jas hujan atau ponco. Bisa dibilang jas hujan atau ponco hal yang penting juga untuk pendakian. Kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan menggelar flysheet untuk berteduh karena agak menghabiskan waktu dan hujan pun segera meredah kami melanjutkan perjalanan pulang. Selama di trek pendakian kami tidak menemukan adanya Pos 2 dan Pos 1, itu membuat yakin kalau kami sedang berada di dimensi lain ditambah lagi memang tidak ada pendaki lain yang lalu lalang setelah dari Pos 3. Seorang kawan bernama Abi menemukan sebuah topi, aneh dong pastinya kenapa tiba-tiba ada topi dengan yakinnya dia mengambil barang tersebut. Ohya, pantangan juga untuk para pendaki jangan mengambil apa pun di gunung apalagi bukan haknya. Tidak lama dari kejadian tersebut Abi merasakan hal yang aneh, tiba-tiba dia meminta untuk break sejenak dan membuang topi yang tadi dia ambil. Dia bilang kepada kami ”Kenapa gue minta break? Hati gue tiba-tiba bilang nyuruh buang tuh topi terus juga perasaan gue engga enak pas nyomot tuh topi”. Akhirnya kami beristirahat sejenak. Saya, Vinno, dan Abi memutuskan untuk menelusuri trek terlebih dulu yang lain masih istirahat, jalan lah kita bertiga menelusuri trek. Langkah pun mengartankan kita agak jauh dari kawan-kawan yang sedang istirahat, langkah makin jauh dari yang lain perasaan pun tidak semakin tidak mengenakkan. Benar saja, tiba-tiba saya mendengar suara dangdut─aneh dong pasti mana ada yang hajatan di daerah pegunungan. Saya masih menghiraukannya tidak lama kemudian terdengar suara adzan hanya Allahuakbar Allahuakbar saja, saya langsung melihat jam dan saat itu menunjukkan jam 14.30─adzan apa jam segitu? Saya baru merinding pas mendengar suara adzan tapi tetap menghiraukannya. Setelah itu terdengar lantunan gamelan, merinding bukan main─dari mana semua asal suara itu? Kita bertiga tiba-tiba berhenti dan Vinno menengok ke hadapan saya dan memastikan “Jang, lo denger semuanya ngga?”. “Iya, No. Gue denger semua dari awal” Saya pun memastikan ke Abi dan ternyata kita bertiga mendengar semua suara itu. Dengan sembarangan si Vinno bilang “Kaya orang hilang di Gunung Ciremai ye ngedenger suara gamelan” Mitos yang beredar di sana memang seperti itu. Lalu saya mengambil keputusan untuk kembali lagi ke kawan-kawan yang sedang beristirahat, agak lama juga menyusul. Akhirnya kita tiba dan langsung saya meminta berdoa, kami berdoa dengan khusyuk dan meminta maap atas semua perbuatan yang telah dilakukan hingga membuat seperti ini. Setelah berdoa kami melanjutkan perjalanan lagi, tapi ada yang aneh baru berjalan beberapa langkah ada plang bertulisan “Anda memasuki kawasan hutan” padahal tadi saya bertiga dengan Vinno dan Abi tidak menemukan plang tersebut dan artinya kalau perjalanan pulang kami keluar dari kawasan hutan. Tiba-tiba dari belakang kami ada yang bilang “Punten ya, A. Permisi” Pendaki lain muncul secara tiba-tiba yang membuat kami kaget dan membuat langsung melihat keadaan di belakang banyak banget pendaki lain─pada saat melihat ke depan pun sudah banyak pendaki lain.
Dengan perasaan campur aduk dan susah untuk dimengerti, Alhamdulillah kami semua sudah balik lagi ke dimensi yang normal. Kami langsung melanjutkan perjalanan ke basecamp dari kejauhan terlihat tim 1 sudah beristirahat di warung dan membuat kami kesal tidak karuan karena menganggap mereka telah meninggalkan kami. Setelah kami sampai di warung tersebut lantas terjadi adu mulut antara tim 1 dan tim 2 daripada menjadi rebut akhirnya tim 2 memustukan untuk mendengarkan penjelasan dari tim 1. Seorang kawan bernama Akmal angkat bicara soal ini, kira-kira seperti ini ceritanya “Pas tim 1 duluan gue sama yang lain jalannya pelan-pelan kok sambil nungguin tim 2. Engga lama setelah itu kita ngedenger suara kalian yang ngebuat gue semakin pelan jalannya tapi semakin ditungguin kok ga muncul padahal suara kalian tuh kenceng banget lagi bercanda-canda. Sempet kok kita manggil-manggil kalian tapi kalian engga pernah nyautin balik. Pas sampe di pos 3 kita nunggu kalian lagi sampe satu jam, kenapa? Karena mau jalan bareng soalnya suara kalian masih ada. Ini mau percaya atau engga sih setelah nunggu selama satu jam suara kalian ilang. Kita mutusin akhirnya buat nunggu kalian di bawah, gue udah ngasih tanda juga di pos 3 pake kertas yang tulisannya itu “Windul” Panggilan kakaknya Vinno. Abis dari pos 3 gue engga pernah lagi denger suara kalian, akhirnya gue mutusin untuk nunggu di warung ini aja. Lama juga kita nungguin kalian. Dan dari tim 2 si Vinno angkat bicara, kira-kira seperti ini “Maap nih ya kalo misalkan dari kita nuduh kalian yang engga-engga, nuduh ngga setia kawan soalnya tuh kita percaya pasti bakal ketemu kalian soalnya jarak kita engga jauh banget lah sama kalian. Terus yang si Akmal bilang tadi katanya neriakin kita, kita tuh engga denger sama sekali dari suara kalian apalagi wujudnya. Justru di pos 3 gue malah nunggu kalian karena gue pikir bisa aja kelewat tanpa kita tahu makanya gue nunggu juga di pos 3. Terus gue juga engga nemu tulisan kertas “Windul” itu di pos 3. Ya, abis itu malah gue ngalamin kejadiane ngga enak banget, Alhamdulillahnya kita bisa selamet, bisa keluar lagi dari keadaan itu. Setelah mendengar penjelasan satu sama lain, akhirnya kami memutuskan untuk saling memaapkan karena hal tersebut dianggap sebagai pengalaman saja untuk ke depannya bisa lebih baik dari yang sekarang ini. Kami memutuskan pulang ke Jakarta pada Senin pagi hari karena kondisi hujan yang sangat deras pada sore hari itu.
Pagi pun tiba kami semua melanjutkan perjalanan ke puncak, perasaan bangga dan sedih pun kami rasakan khusunya untuk yang baru pertama kali bisa mencapai puncak gunung. Sekitar satu jam berada di puncak dan merasa cukup dengan beberapa kali berfoto, kami melanjutkan perjalan turun ke Pos 6 untuk rapih-rapih dan packing logistik. Saat sampai di Pos 6 kawan saya cewe bernama Hizah minta ditemenin untuk ganti pembalutnya, sontak saya kaget mengapa dia baru bilang pada saat seperti ini. Pantangan sekali jika seorang cewe pada saat kondisi seperti itu mendaki gunug, disarankan jangan mendaki gunung pada saat waktu datang bulan. Saya mengiyakan permintaan Hizah dan saya juga memberi tahu kawan yang lain kalau Hizah sedang datang bulan, mereka pun sontak terkaget lalu menanyakan ke Hizah dengan memastikan omongan saya benar atau tidak sedang kondisi datang bulan. Suasana pun berubah dengan perasaan cemas karena hal itu, setelah semuanya beres kami makan dan bersiap-siap untuk pulang karena ingin mengejar waktu agar sampai Jakarta hari ini juga.
Waktu sudah menunjukkan sekitar siang hari, ada satu masalah muncul sebelum melanjutkan perjalan pulang yaitu, sampah yang berlebih. Karena permasalahan itu membuat kami menjadi cekcok, akhirnya kami memutuskan membagi tim menjadi 2, tim 1 berisi 5 orang dan tim 2 berisi 8 orang termasuk saya. Tim 1 berangkat terlebih dahulu dan tim 2 menyelesaikan masalah sampah, tidak memakan waktu yang banyak sekitar 10 menitan masalah pun selesai dengan membuat sampai menjadi tas menggunakan tali webbing. Tim 2 pun berangkat menyusul tim 1, kejanggalan muncul kembali setelah itu. Secara logika tim 2 pasti akan ketemu dengan tim 1 karena waktunya tadi bisa dibilang cepat dan kenyataannya pun tim 2 tidak pernah bertemu dengan tim 1 lagi selama di trek. Tim 2 malah menunggu tim 1 di Pos 3 sekitar satu jam padahalkan seharusnya tim 1 yang menunggu tim 2, aneh, ada hal apa yang menimpah kami? Kami mencoba beripikir yang positif dan tidak mengada-ada. Ternyata ada hal yang tidak beres percaya ataupun tidak tim 2 memasuki dimensi lain secara tidak sadar, setelah melewati Pos 3 semua pun berubah, jalur pendakian, suasana, dan hilangnya semua pendaki lain secara tiba-tiba. Padahal, saat itu pendaki memang sedang lalu lalang. Kami pun langsung menyadarinya dan hanya bertatapan satu sama lain untuk memastikan kejadian ini. Seorang kawan bernama Landung angkat suara setelah kejadian tersebut, dia bilang “Eh, ini treknya sama ngga sih? Kok beda deh terus bersih banget engga ada jejak kaki sama sekali terus juga kok engga ada pendaki lain”. Sontak saya meyakinkan Landung “Sama, Dung. Udah jalan aja dulu engga ada yang aneh kok”. Realitanya memang berbeda dari yang saya bilang. Perjalan masih berlanjut dengan tidak memerdulikan keadaan─kami menganggap semua akan baik-baik saja, tidak lama kemudian hujan turun dan membuat perjalan kami terganggu karena dari kami tidak ada yang membawa jas hujan atau ponco. Bisa dibilang jas hujan atau ponco hal yang penting juga untuk pendakian. Kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan menggelar flysheet untuk berteduh karena agak menghabiskan waktu dan hujan pun segera meredah kami melanjutkan perjalanan pulang. Selama di trek pendakian kami tidak menemukan adanya Pos 2 dan Pos 1, itu membuat yakin kalau kami sedang berada di dimensi lain ditambah lagi memang tidak ada pendaki lain yang lalu lalang setelah dari Pos 3. Seorang kawan bernama Abi menemukan sebuah topi, aneh dong pastinya kenapa tiba-tiba ada topi dengan yakinnya dia mengambil barang tersebut. Ohya, pantangan juga untuk para pendaki jangan mengambil apa pun di gunung apalagi bukan haknya. Tidak lama dari kejadian tersebut Abi merasakan hal yang aneh, tiba-tiba dia meminta untuk break sejenak dan membuang topi yang tadi dia ambil. Dia bilang kepada kami ”Kenapa gue minta break? Hati gue tiba-tiba bilang nyuruh buang tuh topi terus juga perasaan gue engga enak pas nyomot tuh topi”. Akhirnya kami beristirahat sejenak. Saya, Vinno, dan Abi memutuskan untuk menelusuri trek terlebih dulu yang lain masih istirahat, jalan lah kita bertiga menelusuri trek. Langkah pun mengartankan kita agak jauh dari kawan-kawan yang sedang istirahat, langkah makin jauh dari yang lain perasaan pun tidak semakin tidak mengenakkan. Benar saja, tiba-tiba saya mendengar suara dangdut─aneh dong pasti mana ada yang hajatan di daerah pegunungan. Saya masih menghiraukannya tidak lama kemudian terdengar suara adzan hanya Allahuakbar Allahuakbar saja, saya langsung melihat jam dan saat itu menunjukkan jam 14.30─adzan apa jam segitu? Saya baru merinding pas mendengar suara adzan tapi tetap menghiraukannya. Setelah itu terdengar lantunan gamelan, merinding bukan main─dari mana semua asal suara itu? Kita bertiga tiba-tiba berhenti dan Vinno menengok ke hadapan saya dan memastikan “Jang, lo denger semuanya ngga?”. “Iya, No. Gue denger semua dari awal” Saya pun memastikan ke Abi dan ternyata kita bertiga mendengar semua suara itu. Dengan sembarangan si Vinno bilang “Kaya orang hilang di Gunung Ciremai ye ngedenger suara gamelan” Mitos yang beredar di sana memang seperti itu. Lalu saya mengambil keputusan untuk kembali lagi ke kawan-kawan yang sedang beristirahat, agak lama juga menyusul. Akhirnya kita tiba dan langsung saya meminta berdoa, kami berdoa dengan khusyuk dan meminta maap atas semua perbuatan yang telah dilakukan hingga membuat seperti ini. Setelah berdoa kami melanjutkan perjalanan lagi, tapi ada yang aneh baru berjalan beberapa langkah ada plang bertulisan “Anda memasuki kawasan hutan” padahal tadi saya bertiga dengan Vinno dan Abi tidak menemukan plang tersebut dan artinya kalau perjalanan pulang kami keluar dari kawasan hutan. Tiba-tiba dari belakang kami ada yang bilang “Punten ya, A. Permisi” Pendaki lain muncul secara tiba-tiba yang membuat kami kaget dan membuat langsung melihat keadaan di belakang banyak banget pendaki lain─pada saat melihat ke depan pun sudah banyak pendaki lain.
Dengan perasaan campur aduk dan susah untuk dimengerti, Alhamdulillah kami semua sudah balik lagi ke dimensi yang normal. Kami langsung melanjutkan perjalanan ke basecamp dari kejauhan terlihat tim 1 sudah beristirahat di warung dan membuat kami kesal tidak karuan karena menganggap mereka telah meninggalkan kami. Setelah kami sampai di warung tersebut lantas terjadi adu mulut antara tim 1 dan tim 2 daripada menjadi rebut akhirnya tim 2 memustukan untuk mendengarkan penjelasan dari tim 1. Seorang kawan bernama Akmal angkat bicara soal ini, kira-kira seperti ini ceritanya “Pas tim 1 duluan gue sama yang lain jalannya pelan-pelan kok sambil nungguin tim 2. Engga lama setelah itu kita ngedenger suara kalian yang ngebuat gue semakin pelan jalannya tapi semakin ditungguin kok ga muncul padahal suara kalian tuh kenceng banget lagi bercanda-canda. Sempet kok kita manggil-manggil kalian tapi kalian engga pernah nyautin balik. Pas sampe di pos 3 kita nunggu kalian lagi sampe satu jam, kenapa? Karena mau jalan bareng soalnya suara kalian masih ada. Ini mau percaya atau engga sih setelah nunggu selama satu jam suara kalian ilang. Kita mutusin akhirnya buat nunggu kalian di bawah, gue udah ngasih tanda juga di pos 3 pake kertas yang tulisannya itu “Windul” Panggilan kakaknya Vinno. Abis dari pos 3 gue engga pernah lagi denger suara kalian, akhirnya gue mutusin untuk nunggu di warung ini aja. Lama juga kita nungguin kalian. Dan dari tim 2 si Vinno angkat bicara, kira-kira seperti ini “Maap nih ya kalo misalkan dari kita nuduh kalian yang engga-engga, nuduh ngga setia kawan soalnya tuh kita percaya pasti bakal ketemu kalian soalnya jarak kita engga jauh banget lah sama kalian. Terus yang si Akmal bilang tadi katanya neriakin kita, kita tuh engga denger sama sekali dari suara kalian apalagi wujudnya. Justru di pos 3 gue malah nunggu kalian karena gue pikir bisa aja kelewat tanpa kita tahu makanya gue nunggu juga di pos 3. Terus gue juga engga nemu tulisan kertas “Windul” itu di pos 3. Ya, abis itu malah gue ngalamin kejadiane ngga enak banget, Alhamdulillahnya kita bisa selamet, bisa keluar lagi dari keadaan itu. Setelah mendengar penjelasan satu sama lain, akhirnya kami memutuskan untuk saling memaapkan karena hal tersebut dianggap sebagai pengalaman saja untuk ke depannya bisa lebih baik dari yang sekarang ini. Kami memutuskan pulang ke Jakarta pada Senin pagi hari karena kondisi hujan yang sangat deras pada sore hari itu.
Ini murni kejadian yang saya alami tanpa dibuat-buat, mau kalian percaya ataupun tidak─tidak menjadi masalah bagi saya karena saya hanya ingin berbagi pengalaman ke kalian bahwa selama di alam bebas yaitu, baik gunung maupun laut kita harus menjaga ucapan dan perbuatan. Karena semua yang kita lakukan akan berdampak ke kita juga. Terima kasih yang sudah membaca tulisan saya yang sederhana ini. Salam lestari, salam literasi.
ngeri juga ya gan, dipindahin ke dimensi lain:(
BalasHapus